Bulan Juli, Juni, Agustus tiap tahunnya selalu dingin di Malang. Padahal di bulan-bulan lainnya nggak kayak gitu lo.. Mungkin istilah IT-nya restart cuaca kali ya :)
Jadi gini ceritanya, tiap pagi bangun di atas jam 05.00 WIB karena asik 'melungker' dan colekan angin subuh yang hem..bikin tambah asik membenamkan tubuh di dalam selimut. Abis bangun langsung buka laptop+online sambil nonton TV (mohon dimaklumi, bulan ini kampus masih masa tamasya non-aktif perkuliahan) sampai siang. Setelah itu keluar cari makan sebungkus, online lagi atau langsung molor melanjutkan tradisi masyarakat Jawa mbatik dalam konteks lain (ngiler). Sorenya bangun tidur dengan jiwa yang masih separoh (mungkin masih digondol hantu lewat, diajak maen ke 'rumahnya') ambil remote dan mecet tombol ON. Malam harinya setelah makan (biasanya sih lalapan) buka laptop lagi, online lagi sampe jam 23.00 WIB atau kalo gak jam 01.00 WIB.
Yah mungkin temen-temen pada mikir, "Kenapa gag mudik aja atau liburan kemana gitu, paling enak kan ngisi liburan kuliah kayak gitu!". Kenyataannya gag seperti itu boy-sist, percayalah bahwa Universitas Negeri Malang kami yang tercinta tertua di Kota Bunga ini sedikit/mungkin banyak mbalelo sama aturan pemerintah. Mahasiswa disuruh bayar SPP untuk 1 semester dengan masa efektif + 3 bulan, bayangin coba this is corruption. Oke..oke..kita tinggalin masalah satu ini, itu bukan urusan kita selama KPK belum kena SP (Surat Pailit). Kita fokus sama masalah masa libur panjang (triwulan), apalagi abis itu masuk kuliah 'cuma' 1 minggu di saat puasa (sori..saya tidak menunaikan ibadah yang satu ini) terus libur HR Idul Fitri. Bukannya saya sok pinter, sok aktivis, atau apalah namanya (asli Gan..saya ini songong abis) tapi setidaknya saya mempertanyakan uang dari orang tua+uang jajan pula.
Sepertinya pembicaraan kita udah ngelantur kemana-mana deh, baik kembali ke first page, yaitu problematika saya di malang selama bulan-bulat terdingin di malang selama 1 tahun. Baiklah saya mulai lagi pembicaraannya, um..malah bingung sendiri abis nulis paragraf terakhir ini.
Mungkin cukup sekian dulu postingan saya (maaf kapasitas HD otak saya sudah panas) jadi semoga bisa kita lanjutkan kapan-kapan lagi :)
Tidak ada komentar on "Bulan Gini di Perantauan"