Gairah vs Jenuh

Hidup terasa monoton? Yah..apa boleh buat, saya kira setiap orang pasti pernah mencapai suatu masa kejenuhan yang teramat sangat dan berulang. Jenuh dapat muncul dengan berbagai cara dan sebab, mau itu jenuh karena suka cita, jenuh dengan rutinitas, jenuh tertawa, jenuh menangis, jenuh dengan diri sendiri. Wajar. Jika boleh saya sedikit bercerita tentang kejenuhan yang akhir-akhir ini terasa, bahwa saya jenuh dengan rutinitas yang ala kadarnya ini. Hingga muncul pertanyaan di kepala tentang bagaimana memunculkan gairah hidup seperti yang pernah digagas oleh Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyotamtama, S.J., M.Sc. (Rektor Universitas Sanata Dharma) dalam acara Diskusi Keanekaragaman Capung Wendit. Gairah hidup yang saya maksud adalah dinamis secara lahir maupun batin.

Gairah lahir mungkin masih cukup murah untuk dilakukan, asalkan mau untuk bergerak dan berkeringat, iya kan? Lalu bagaimana dengan gairah batin? Asalkan mau 'ngomong' dengan takzim dan khusuk pasti gairahnya keluar kok, begitu ucapku kepada beberapa teman (tetapi aku pun ogah melakukannya). Em..selain itu sebenarnya ada satu hal tentang jenuh batin ini, pasangan. Oke mungkin terlalu berlebihan jika saya ulas masalah ini, tetapi saya bukan rahib atau biksu yang mampu mengendalikan emosi dan asmara dengan kualitas dewa. Satu hal yang sampai sekarang masih menjadi pertanyaan, seperti apa atau tepatnya bagaimana menjawab kejenuhan dalam berhubungan dengan yang dikasihi? Belum dapat saya jawab, mungkin kamu mampu memberi pencerahan?


Suatu hari saat mempersiapkan acara angkatanku di sini, saya sempatkan untuk menyewa beberapa film dengan genre utama yaitu romantis. Salah satu filmnya adalah Hope Spring yang saya rasa cocok dengan topik kali ini juga menceritakan tentang upaya sebuah pasangan (sebenarnya si Istri yang antusias) untuk mendapatkan sebuah gairah kembali pada perahunya yang cukup renta. Kay sebagai seorang istri yang setia tetapi menuntut sebuah perubahan pada perjalanan pernikahan berusia 31 tahun mencoba mengajak suaminya, Arnold, pegawai teladan yang mencerminkan pekerja keras dan sedang memasuki masa Andropause. Sekitar 25% adegan awal akan terasa sangat membosankan dengan kisah pasangan tua dan gak asik. Kondisi akan sedikit berubah (menurutku) saat pasangan ini mencoba berbagai terapi dari dr. Bernard. Ada sedikit masukan yang saya suka dari sini, "Bahkan sebuah pernikahan (hubungan) yang besar memiliki tahun yang membosankan..bertahanlah! (dan perbaharuilah) Ada masa dimana kalian akan melihat saat (hubungan) ini sebagai pendahuluan untuk sesuatu yang lebih lengkap"

Jadi silahkan mencoba membangun ulang gagasan kita akan makna kejenuhan dan cara mengelolanya ;)

SanTAI

Membayangkan semua kegiatan yang telah kita lakukan dalam hidup dengan jumawa ini tiba-tiba berakhir. Hidup yang katanya singkat sungguh bisa dinikmati oleh Manusia dengan aduhai santainya. Santai dengan kesibukan kantor, santai dengan tetek-bengek tugas sekolah, santai dengan kesantaiannya. Semua tampak harmonis dalam pandangan Manusia sebagai pelaku hidup. Pernahkah gagasan ini muncul kawanku? Kawan nan aduhai dalam semua lini hidupku.

Suatu waktu karena kadar kesantaianku akan rutinitas ini sedang labil, kusempatkan untuk barter film-lagu dengan kawanku, kakak tingkatku. "Mbak..sampean nduwe film opo wae? Aku ngopi ya!" | "Lumayan, ada beberapa sih kamu mau yang mana?" *kemudian di-list semua daftar filmnya* | "Aku ngopi film 3 Hari Untuk Selamanya karo Republik Tweeter" | "Oke, besuk ya sekalian aku ngopi lagumu". Kesepakatan yang kami lakukan berlangsung lancar dan sepertinya sukses. Alasanku meminta judul film itu karena belum pernah nonton, padahal OST-nya sudah tiap hari menjamah kupingku ini.


Alur ceritanya lumayan, meskipun film jadul tetapi konsep yang dibawakan masih sangat up to date. Perjalanan, keluarga, persahabatan, dan jati diri menjadi nadi yang mengalirkan gambaran kehidupan masyarakat Ibukota (dan sepertinya sekarang sudah sampai pelosok). Tidak ada yang menonjol dari film ini, sangat berbeda jika membandingkannya dengan film 2012, fast &furious, atau jenis mainstream lainnya. Film ini memiliki cara tersendiri dalam menangkap kesantaian Manusia dan menggulirkannya kembali secara ENDONESA. Istilah yang kugunakan untuk menggambarkan kesantaian Manusia NKRI yang cukup jumawa.

Cukup sekian gagasanku akan kesantaian. Santaimu pake' cita rasa apa?