Gairah lahir mungkin masih cukup murah untuk dilakukan, asalkan mau untuk bergerak dan berkeringat, iya kan? Lalu bagaimana dengan gairah batin? Asalkan mau 'ngomong' dengan takzim dan khusuk pasti gairahnya keluar kok, begitu ucapku kepada beberapa teman (tetapi aku pun ogah melakukannya). Em..selain itu sebenarnya ada satu hal tentang jenuh batin ini, pasangan. Oke mungkin terlalu berlebihan jika saya ulas masalah ini, tetapi saya bukan rahib atau biksu yang mampu mengendalikan emosi dan asmara dengan kualitas dewa. Satu hal yang sampai sekarang masih menjadi pertanyaan, seperti apa atau tepatnya bagaimana menjawab kejenuhan dalam berhubungan dengan yang dikasihi? Belum dapat saya jawab, mungkin kamu mampu memberi pencerahan?
Suatu hari saat mempersiapkan acara angkatanku di sini, saya sempatkan untuk menyewa beberapa film dengan genre utama yaitu romantis. Salah satu filmnya adalah Hope Spring yang saya rasa cocok dengan topik kali ini juga menceritakan tentang upaya sebuah pasangan (sebenarnya si Istri yang antusias) untuk mendapatkan sebuah gairah kembali pada perahunya yang cukup renta. Kay sebagai seorang istri yang setia tetapi menuntut sebuah perubahan pada perjalanan pernikahan berusia 31 tahun mencoba mengajak suaminya, Arnold, pegawai teladan yang mencerminkan pekerja keras dan sedang memasuki masa Andropause. Sekitar 25% adegan awal akan terasa sangat membosankan dengan kisah pasangan tua dan gak asik. Kondisi akan sedikit berubah (menurutku) saat pasangan ini mencoba berbagai terapi dari dr. Bernard. Ada sedikit masukan yang saya suka dari sini, "Bahkan sebuah pernikahan (hubungan) yang besar memiliki tahun yang membosankan..bertahanlah! (dan perbaharuilah) Ada masa dimana kalian akan melihat saat (hubungan) ini sebagai pendahuluan untuk sesuatu yang lebih lengkap"
Jadi silahkan mencoba membangun ulang gagasan kita akan makna kejenuhan dan cara mengelolanya ;)


