SanTAI

Membayangkan semua kegiatan yang telah kita lakukan dalam hidup dengan jumawa ini tiba-tiba berakhir. Hidup yang katanya singkat sungguh bisa dinikmati oleh Manusia dengan aduhai santainya. Santai dengan kesibukan kantor, santai dengan tetek-bengek tugas sekolah, santai dengan kesantaiannya. Semua tampak harmonis dalam pandangan Manusia sebagai pelaku hidup. Pernahkah gagasan ini muncul kawanku? Kawan nan aduhai dalam semua lini hidupku.

Suatu waktu karena kadar kesantaianku akan rutinitas ini sedang labil, kusempatkan untuk barter film-lagu dengan kawanku, kakak tingkatku. "Mbak..sampean nduwe film opo wae? Aku ngopi ya!" | "Lumayan, ada beberapa sih kamu mau yang mana?" *kemudian di-list semua daftar filmnya* | "Aku ngopi film 3 Hari Untuk Selamanya karo Republik Tweeter" | "Oke, besuk ya sekalian aku ngopi lagumu". Kesepakatan yang kami lakukan berlangsung lancar dan sepertinya sukses. Alasanku meminta judul film itu karena belum pernah nonton, padahal OST-nya sudah tiap hari menjamah kupingku ini.


Alur ceritanya lumayan, meskipun film jadul tetapi konsep yang dibawakan masih sangat up to date. Perjalanan, keluarga, persahabatan, dan jati diri menjadi nadi yang mengalirkan gambaran kehidupan masyarakat Ibukota (dan sepertinya sekarang sudah sampai pelosok). Tidak ada yang menonjol dari film ini, sangat berbeda jika membandingkannya dengan film 2012, fast &furious, atau jenis mainstream lainnya. Film ini memiliki cara tersendiri dalam menangkap kesantaian Manusia dan menggulirkannya kembali secara ENDONESA. Istilah yang kugunakan untuk menggambarkan kesantaian Manusia NKRI yang cukup jumawa.

Cukup sekian gagasanku akan kesantaian. Santaimu pake' cita rasa apa?


Tidak ada komentar on "SanTAI"

Leave a Reply